Nabi Ibrahim dan Penghancuran Berhala

Kisah Nabi Ibrahim As. mencari tuhan mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Nabi Ibrahim lahir pada masa pemerintahan Raja Namrud. Bapaknya Bernama Azar atau Tarikh, seorang pembuat patung berhala yang paling terkenal di kota itu. Nama Azar, ada yang menafsirkan bahwa itu adalah kuniyah dari bapak beliau sebagai pembuat patung. Nabi Ibrahim lahir di tengah kabar di larangnya anak laki-laki lahir, sebab mimpi Raja Namrud. Akhirnya ibunya bersembunyi di hutan sampai kelahiran Nabi Ibrahim hingga beliau menginjak remaja.

Nabi Ibrahim mulai merasakan kesadaran bahwa tuhan pencipta alam semesta adalah Allah sejak kecil. Karena sejak kecil, Nabi Ibrahim sudah dikaruniai akal dan jalan yang lurus. Beliau pertama kali mendakwahkan tentang tiada tuhan selain Allah kepada ayah beliau. Namun ajakan beliau ditolak oleh ayah beliau. Bahkan Azar mengancam Nabi Ibrahim, jika beliau tidak berhenti mendakwahkan tentang keesaan Allah, maka beliau akan dirajam oleh ayah beliau sendiri. Karena Azar menganggap bahwa Nabi Ibrahim menghina tuhan yang ia sembah.

Saat memasuki perayaan hari raya, Nabi Ibrahim tidak mengikuti perayaan tersebut. Beliau bersiap untuk menghancurkan berhala-berhala yang ada, dan menyisakan satu yang paling besar. Kemudian beliau meninggalkan kapak bekas digunakan untuk menghancurkan tadi pada berhala yang paling besar. Saat orang-orang kembali, mereka kaget dan menduga yang menghancurkan semua berhala yang ada adalah Nabi Ibrahim. Lantas Nabi Ibrahim berkata, “Bukan aku yang menghancurkan mereka semua, yang menghancurkan itu adalah yang paling besar, karena kapak itu ada padanya”. Orang-orang menjawab, “Apakah kau gila? Bagaimana mungkin dia menghancurkan, padahal dia tidak bisa bergerak”. Kemudian Nabi Ibrahim menjawab, “Lantas siapa yang gila disini? Aku ataukah kalian yang jelas-jelas memohon padanya, padahal ia tidak dapat mendengar”. Sebagian orang mulai tersadarkan, tetapi tak serta merta membuat mereka meninggalkan ajaran nenek moyang.

Proses Pencarian Tuhan Semesta Alam

Nabi Ibrahim memulai perjalanannya dalam mencari tuhan. Pada malam hari, Beliau melihat bintang dan bulan berkilauan. Lantas menyangkanya sebagai tuhan. Karena beliau beranggapan bahwa bulan dan bintang lebih hebat dari pada berhala, bulan dan bintang juga tidak dapat diciptakan oleh manusia. Kemudian keesokan paginya, bulan dan bintang hilang, tenggelam digantikan matahari. Nabi Ibrahim mulai berfikir, “Tidak mungkin tuhan tenggelam, Tuhan pasti selalu ada”. Sejak saat itu, Nabi Ibrahim membenci sesuatu yang tenggelam. Hal ini terdapat dalam firman Allah Q.S. Al-An’am ayat 75-77 yang berbunyi:

وَكَذٰلِكَ نُرِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ مَلَكُوْتَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلِيَكُوْنَ مِنَ الْمُوْقِنِيْنَ ۝٧٥فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًاۗ قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ ۝٧٦فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ ۝٧٧

“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin () Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Lalu ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”

Tak sampai disitu, pencarian Nabi Ibrahim terhadap Tuhan yang patut untuk disembah masih tetap berlanjut, maka disaat dia telah menegaskan bahwa bulan dan bintang bukanlah Tuhan yang layak untuk disembah, beliau pun sempat berfikir bahwa matahari lah tuhan yang selama ini dia cari karena dianggap lebih besar dari bulan dan bintang. Tetapi sangkaan ini pun cepat langsung dibantah sendiri olehnya setelah ia melihat bahwa matahari pun tenggelam sama halnya seperti bulan. Hal ini juga digambarkan oleh Al-Qur’an dalam lanjutan Surat Al-An’am

فَلَمَّا رَاٰ الشَّمۡسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّىۡ هٰذَاۤ اَكۡبَرُ​ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَتۡ قَالَ يٰقَوۡمِ اِنِّىۡ بَرِىۡٓءٌ مِّمَّا تُشۡرِكُوۡنَ‏ ٧٨

Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.”Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

Atas bimbingan Allah, Nabi Ibrahim pun menyadari bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah yang dapat menciptakan langit, bulan, bintang, matahari, dan seluruh alam semesta. Tuhan yang mengatur rotasi pada benda-benda langit tersebut. Tuhannya adalah Allah Swt. Yang dapat menciptakankannya dan membuatnya bernafas, bergerak, yang keberadaanya dapat berada dimana saja.

Nabi Ibrahim mulai mendakwahkan apa yang beliau yakini kepada penduduk Haran. Tetapi mereka tidak mempercayainya dan tetap berpegang teguh pada ajaran nenek moyang mereka. Untuk melindungi keimanan beliau Nabi Ibrahim pun berhijrah ke Negeri Syam, ditemani oleh sarah, istri beliau dan Luth, keponakan beliau yang esok akan diutus menjadi nabi.

Bersyukurlah kita yang sekarang, beriman kepada Allah dari warisan orang tua kita. Kita hanya wajib mengimani tanpa harus berusaha mencari jati diri dan mencari tuhan pencipta langit dan bumi.

Referensi

Katsir, Ibnu. 2013. Kisah Para Nabi. Terj. Umar Mujtahid. Jakarta: Ummul Qura.

Syakila Ainun Nikmah

https://sejarahdalil.com/ketika-dengki-mengalahkan-persaudaraan-hikmah-dan-pelajaran-dari-kisah-qabil-dan-habil/