Orang-orang Yahudi Madinah tidak pernah berhenti memiliki sifat hasud kepada Nabi Muhammad saw dan juga kaum muslim, mereka sangat tidak senang dengan kehadiran Nabi Muhammad saw di Madinah. Terlebih lagi, Nabi Muhammad saw yang merupakan Nabi akhir zaman itu diketahui bukan berasal dari kalangan Yahudi, sehingga hal itu membuat semakin membaranya api kedengkian di kalangan orang-orang Yahudi.
Kenapa kedengkian itu bisa ada? Jawabannya karena orang-orang Yahudi Madinah dan orang-orang Arab Madinah telah lama terlibat permusuhan dan saling berusaha untuk unggul-mengungguli. Ketika orang-orang Yahudi sering dikalahkan dalam pertempuran, mereka berharap bahwa ada juru selamat yang tak lain adalah seorang Nabi terakhir yang mereka telah lama tunggu yang akan membantu mereka mengalahkan orang-orang Arab. Maka dari itu ketika Nabi terakhir yang mereka tunggu-tunggu itu berasal dari kalangan bangsa Arab, mereka tidak menerima dan berusaha untuk menjatuhkan nama baik Nabi Muhammad saw agar orang lainnya ikutan agar tidak mempercayai bahwa Muhammad bukanlah Nabi akhir zaman seperti yang telah mereka kabarkan.
Sayangnya kedengkian kepada Nabi Muhammad saw, tidak hanya datang dari orang-orang awam Yahudi, malahan kedengkian terbesar yang diutarakan secara langsung kepada Nabi saw justru datang dari kalangan orang-orang terpelajar Yahudi yang biasa dikenal dengan para rahib. Sebut saja salah duanya adalah Rofi’ bin Huraimilah dan Wahab bin Zaid. Mereka berdua ini adalah para rahib yang mengerti isi kitab Taurat, dan pastinya berdasarkan pengetahuan mereka dari kitab Taurat itu, membuat mereka sangat mengenal ciri-ciri Nabi akhir zaman yang telah diberitakan dalam kitab Taurat.
Banyak Berkilah
Hanya saja, tidak semua orang yang pandai dan tahu tentang isi kitab Taurat menjadikan mereka secara otomatis dapat dengan mudah menerima dan mengakui bahwa Muhammad adalah Nabi dan utusan Allah. Mereka sering kali mencari celah dengan cara meminta bukti kepada Nabi Muhammad saw tentang perkara yang aneh-aneh, tujuannya supaya ketika Nabi saw tidak bisa membuktikan, maka mereka punya alasan untuk terhindar dari keharusan mengakui iman kepada Nabi Muhammad saw.
Maka dari itu, dalam Tafsir Ibnu Katsir disampaikan sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas, bahwa Rofi bin Huraimilah dan Wahab bin Zaid berkata kepada Nabi saw. “Wahai Muhammad, datangkan kepada kami suatu kitab yang dapat kau turunkan dari langit agar kami dapat membacanya, dan pancarkan kepada kami sungai, niscaya kami akan mengikutimu dan membenarkanmu.”
Perlu diketahui, sebenarnya permintaan ini hanyalah sebuah alasan yang dibuat-buat oleh mereka berdua, karena sekalipun Rasulullah saw memenuhi permintaan mereka, belum tentu juga hal itu membuat mereka mau beriman. Karena perlu diingat, orang-orang Yahudi itu sangat tidak bisa dipegang janjinya. Bagaimana tidak, Taurat yang mereka percayai saja dan mereka yakini kebenarannya sering kali dikhianati apalagi Muhammad yang memang sedari awal sudah tidak mereka senangi. Makanya ketika dua orang Rahib Yahudi itu telah selesai mengungkapkan permintaannya, Allah malah menurunkan surat Al-Baqarah ayat 108 yang berbunyi:
اَمْ تُرِيْدُوْنَ اَنْ تَسْـَٔلُوْا رَسُوْلَكُمْ كَمَا سُىِٕلَ مُوْسٰى مِنْ قَبْلُ ۗوَمَنْ يَّتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ
“Ataukah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasulmu (Nabi Muhammad) seperti halnya Musa (pernah) diminta (Bani Israil) dahulu? Siapa yang mengganti iman dengan kekufuran, sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 108).
Dari ayat itu seolah-olah Allah sedang ingin mencoba membuka kembali ingatan orang Yahudi, terkhusus lagi kepada yang langsung meminta kepada Nabi saw tentang permintaan yang aneh-aneh itu. Dimana dahulu di zaman Nabi Musa as, Allah pernah mematikan para leluhur orang-orang Yahudi yang pernah meminta kepada Musa agar mereka bisa melihat Allah secara langsung, maka seketika itu juga mereka semua mati lantaran permintaan itu, tetapi atas doa Nabi Musa dan juga rahmat Allah, akhirnya Allah hidupkan kembali mereka semua yang telah mati.
Oleh karenanya, Ayat itu menjadi peringatan kepada orang-orang Yahudi yang hidup di masa Nabi Muhammad saw agar jangan terlalu banyak meminta perkara yang aneh-aneh kalau tidak mau bernasib sama seperti para pendahulunya. Makanya redaksi ayat itu memiliki arti yang cukup langsung menghujam jantung bagi orang yang mengerti, dimana makna bebasnya “memangnya kamu mau meminta kepada Rasulmu (Nabi Muhammad saw) seperti permintaan leluhurmu kepada Musa? Siapa saja yang menukar keimanan dengan kekufuran maka dia telah keluar dari jalan lurus ke jalan kesesatan.”
Sehingga dalam beberapa hal, kita hanya diperintahkan untuk percaya saja dengan sepenuh hati terhadap perkara yang memang kita diperintahkan untuk beriman, tidak usah terlalu banyak meminta bukti. Karena kalau sudah diturunkan bukti yang nyata dari Allah tetapi masih tidak mau beriman juga, resikonya harus siap-siap didatangkan azab langsung di dunia.
Versi Asbabun Nuzul Dari Abu Al-Aliyah
Berbeda halnya dengan Ibnu Abbas, Abu al-Aliyah juga menyampaikan riwayat yang berbeda terkait asbabun nuzul surat Al-Baqarah ayat 108 ini. Menurut riwayat dari Abu al-Aliyah, dahulu ada seorang lelaki yang berkata kepada Rasulullah saw “seandainya saja kafarat(penebus dosa) kami dibuat sama seperti halnya kafarat Bani Israel” mendengar hal itu Rasul saw bersabda “Ya Allah, kami tidak menginginkannya.” (Nabi mengulangi perkataannya ini sebanyak tiga kali). Kemudian Nabi saw melanjutkan sabdanya “apa yang telah Allah berikan kepada kalian, itu adalah lebih baik dari pada apa yang Allah berikan kepada Bani Israil. Dahulu kalau orang-orang dari kalangan Bani Israel jika ia berbuat dosa, maka dipintu rumahnya akan tertulis perbuatan dosanya sekaligus cara kafaratnya (penebusan dosa), jika ia melakukan kafaratnya maka ia akan terhina di dunia (karena semua tetangga dan masyarakatnya akan mengetahui dosa yang mereka perbuat), jika mereka tidak melakukan kafaratnya maka kehinaan akhiratlah yang akan menimpanya, maka apa yang telah Allah anugerahkan kepada kalian adalah hal yang paling baik dari pada apa yang Allah berikan kepada Bani Israel.”
Pengandaian dari seorang lelaki di atas tentang keinginannya agar kafarat kaum muslimin sama seperti kafaratnya orang-orang Bani Israel, yang dia anggap sepertinya menyenangkan dan lebih mudah ketimbang kafaratnya umat Nabi Muhammad saw, mungkin saja terjadi karena faktor ketidaktahuannya tentang bagaimana beratnya cara kafarat dosa yang ditanggung oleh orang-orang Bani Israel, sehingga timbul pernyataan seperti yang diceritakan dalam riwayat tersebut.
Dan yang menjadi pertanyaan pentingnya, mengapa Rasul mengatakan apa yang telah Allah berikan kepada kita (kaum muslim) lebih baik dari pada apa yang telah Allah berikan kepada Bani Israel? Jawabannya kalau seorang muslim dari umatnya Nabi Muhammad saw, kafarat dosanya cukup hanya dengan bertobat dengan sungguh dan berusaha untuk tidak mengulanginya, sedangkan orang-orang Bani Israel di masa Nabi Musa, jika mereka melakukan dosa, maka dosanya itu akan tercatat secara otomatis di pintu rumahnya sekaligus tercatat pula bagaimana cara meminta pengampunannya kepada Allah. Kalau mereka melakukan kafarat itu, maka mereka akan terhina di dunia disebabkan cemoohan dari tetangganya, karena perbuatan dosanya telah menjadi konsumsi publik sehingga semua orang mengetahuinya. Namun andai mereka ingkar tidak melakukan kafaratnya, maka pasti mereka akan terhinakan di akhirat dengan siksa dari Alah karena pengingkarannya. Itulah gambaran beratnya beban umat terdahulu. Sedangkan di umatnya Nabi Muhammad saw, aib itu malah ditutupi oleh Allah sebagai tanda dari salah satu kasih sayangnya. Hanya saja, sekarang malah banyak orang yang sengaja mengumbar aibnya di saat Allah sebenarnya ingin menutupi aibnya itu.
Selain itu, kafarat yang dilakukan Bani Israil jika itu adalah dosa besar yang dilakukan, maka tidak ada cara lain selain membunuh diri sendiri, sedangkan di umatnya Nabi saw, dosa besar jika itu hanya berkaitan dengan hak Allah masih bisa hilang dengan taubat. Tapi kalau berkaitan dengan manusia lainnya, seperti membunuh misalnya dan tidak mendapat ampunan dari keluarga korban, barulah ia dibunuh lagi, andaikan diampuni oleh keluarga korban, maka ia tidak dibunuh tetapi ada pilihan untuk menyerahkan diyat (tebusan) kepada keluarga korban. Itulah keistimewaan yang diberikan kepada umatnya Nabi saw.
Jadi inilah yang dimaksud dari apa yang kita dapatkan dari Allah itu lebih baik dari apa yang di dapatkan oleh Bani Israil, maka dari itu jangan menuntut apa-apa lagi dari Allah terlebih lagi kepada hal yang tidak kita ketahui keadaannya. Karena apa yang kita dapat hari ini, adalah anugerah terbaik yang belum tentu diberikan oleh umat sebelumnya, sehingga jangan terlalu banyak menuntut kepada Allah tentang perkara yang tidak kita ketahui baik dan buruknya.
–
Referensi:
- Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I, h. 140.
- Jalaluddin as-Suyuthi, Lubabun Nuqul, h. 16.
baca juga Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 159: Arti dari “Menjerumuskan Diri Dalam Kebinasaan”
