Banyak orang beranggapan bahwa syari’at perintah qurban terjadi karena peristiwa yang terjadi pada Nabi Ismail dan Ibrahim, padahal jauh sebelum itu terjadi Allah SWT sudah menurunkan perintah qurban terhadap anak Nabi Adam as, Qabil dan Habil.
Dikisahkan istri Nabi Adam as apabila diberi keturunan oleh Allah SWT selalu melahirkan dua bayi kembar sepasang. Jika dijumlahkan Siti Hawa melahirkan sekitar 40 kali. Setelah semua anak Nabi Adam mencapai usia dewasa Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Adam as untuk menikahkan anak-anaknya secara silang. Setiap anak akan dinikahkan dengan saudara kembarnya yang lain.
Saat Nabi Adam memerintahkan putranya Qabil akan dinikahkan dengan saudara sepasangnya Habil, dan Habil dinikahkan dengan saudara sepasang Qabil. Qabil marah dan tidak terima atas ketentuan ayahnya. Ia merasa ayahnya tidak adil terhadapnya, karena saudara kembarnya adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Sedangkan ia akan dinikahkan dengan saudara kembar Habil yang tidak memiliki paras yang cantik. Sehingga Qabil spontan berkata kepada ayahnya:
أَنَا أَحَقُّ بِهَا، وَهُوَ أَحَقُّ بِأُخْتِهِ، وَلَيْسَ هَذَا مِنَ اللَّه تَعَالَى، وَإِنَّمَا هُوَ رَأْيُكَ
“Saya lebih berhak terhadap saudara itu dan ia juga berhak terhadap saudaranya. Ini bukanlah perintah dari Allah melainkan pendapatmu sendiri.”
Nabi Adam as adalah seorang ayah yang bijaksana dan selalu menginginkan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Melihat perselisihan yang terjadi, beliau pun berdoa kepada Allah SWT memohon petunjuk dan keputusan yang terbaik.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
Bacakanlah olehmu (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Ma’idah: 27)
Nabi Adam as pun memerintahkan sesuai yang diperintahkan Allah SWT kepada kedua putranya untuk berqurban. Dengan syarat qurban mana yang paling baik di sisi Allah maka itulah yang akan diterima dan akan dinikahkan dengan perempuan pilihannya. Habil merupakan seorang peternak. Untuk hewan qurbannya, Ia mempersiapkan hewan ternak terbaiknya yang sehat, gemuk, dan yang paling ia sukai. Sedangkan Qabil adalah seorang petani. Ia secara sengaja mengambil buah-buahan secara asal-asalan, seandainya diberikan kepada hewan maka hewan tersebut tidak akan mau memakannya.
Kemudian keduanya mempersembahkan qurbannya di kaki gunung. Qurban Habil tiba-tiba disambar api sebagai tanda qurbannya diterima Allah SWT. Seketika itu Qabil merasa dengki kepada saudaranya dan berkata:
“Sungguh aku akan membunuhmu.”
Habil menjawab:
“Sesungguhnya qurban yang diterima di sisi Allah SWT adalah qurban orang-orang yang bertakwa.”
Suatu ketika, Habil tidak kunjung pulang ke rumah. Nabi Adam as kemudian memerintahkan Qabil untuk mencari keberadaan saudaranya. Setelah mencarinya, Qabil menemukan Habil sedang tertidur pulas di atas sebuah batu besar. Saat itulah rasa dengki yang selama ini terpendam dalam dirinya memuncak. Di situlah sifat dengkinya bergejolak hingga ia melemparkan batu yang sangat besar terhadap saudaranya hingga mati.
Di dalam suatu riwayat ada yang mengatakan Qabil membunuh Habil dengan melemparkan besi yang sangat panas. Ada juga yang mengatakan Qabil mencekiknya hingga wafat. Setelah itu, Qabil kembali kerumahnya tanpa menunjukkan rasa penyesalan atas perbuatannya. Dikisahkan Habil adalah seorang laki-laki yang tangguh, kuat, dan perkasa. Jikalau Habil dan Qabil bergulat maka Qabil akan kalah. Tetapi Habil tidak mau mengulurkan tangannya untuk melawan, karena ia mengetahui akan larangan Allah dan senantiasa taat kepada perintah-Nya.
Selang lama dari peristiwa itu, Nabi Adam as merasa kehilangan Habil karena tidak kunjung kembali. Beliau pun menanyakan keberadaan Habil kepada Qabil. Mendengar pertanyaan tersebut, Qabil diliputi rasa takut lalu kembali mendatangi jasad saudaranya. Namun, ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap jasad itu. Karena kebingungannya, ia membawa jasad Habil ke mana pun ia pergi. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Qabil membawa jasad saudaranya selama satu tahun ada yang mengatakan seratus tahun bahkan dalam suatu riwayat mengatakan selama bertahun-tahun. Selama itu pula, Allah SWT menjaga jasad Habil sehingga tidak membusuk.
Hingga akhirnya, Qabil melihat dua ekor burung gagak yang sedang bertarung. Salah satu burung gagak itu mati dan burung gagak yang lain mengais tanah dengan paruh dan kakinya, lalu menimbun bangkai gagak tersebut hingga terkubur. Kabar kematian Habil pun sampai kepada Nabi Adam as. Beliau sangat bersedih atas wafatnya putra tercintanya. Sebagai ungkapan duka yang mendalam, beliau melantunkan sebuah syair tentang Habil.
أبا هابيلَ قد قُتِلَا جميعًا ۞ وجاءَ بِشِرَّةٌ قد كانَ منها
وصارَ الحيُّ كالميتِ الذبيحِ ۞ على خوفٍ فجاءَ بها يُصْلِحُ
Pembangkangan Qabil telah mematikan semuanya
Hingga kehidupan seperti mayat yang disembelih
Lalu tampaklah kulit luarnya di sana
yang terlihat ketakutan dan menjerit dalam perih
Pembunuhan Habil oleh Qabil merupakan peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi. Peristiwa itu terjadi di Gunung Qasiyun, bagian selatan Damaskus, pada sebuah tempat yang dikenal dengan nama Maghārah ad-Dam (Gua Darah atau tempat pertumpahan darah). Nama tempat terjadinya peristiwa ini, disampaikan oleh Ahli Kitab. Tentang kebenarannya, hanya Allah yang Mahatahu.
Referensi Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya
Ulfa Nabila, Mahasiswa Semester II Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta
