Orang Yahudi Madinah dan Nasrani Najran pernah terlibat perseteruan yang cukup serius di masa Nabi Muhammad saw, bahkan secara langsung mereka pernah juga terlibat perdebatan sengit di hadapan Nabi saw terkait tentang keabsahan agama yang mereka anut. Perdebatan mereka ini bahkan hingga sampai membuat mereka saling ingkar-mengingkari Nabi Isa dan juga Nabi Musa. Untuk lebih jelasnya, kita perlu menengok sebuah riwayat yang disampaikan dari Muhammad bin Ishaq yang bersumber dari Ibnu Abbas dan terdapat di dalam Tafsir Ibnu Katsir Juz I/143. Bahwa suatu waktu sekelompok orang Nasrani dari penduduk Najran datang bertemu kepada Nabi Muhammad saw. Di dalam riwayat itu tidak dijelaskan maksud kedatangan dari delegasi Nasrani Najran ini. Yang jelas pada saat itu, benar adanya bahwa sedang terjadi pertemuan antara Nabi Muhammad saw dengan sekelompok Nasrani Najran.
Disela-sela pertemuan itu, datanglah para pendeta Yahudi dan memprovokasi orang-orang Nasrani Najran sehingga membuat mereka berdua adu mulut. Ketika adu mulut sedang terjadi, salah seorang rahib Yahudi yang bernama Rafi bin Huraimilah berkata “مَا أَنْتُمْ عَلَى شَيْءٍ” (kamu tidak berdiri di atas agama apapun), bahkan tidak tanggung-tanggung Rafi ini langsung mengingkari kenabian Nabi Isa dan juga kebenaran Kitab Injil, padahal Nabi Isa dan Injil telah dinubuwwatkan kebenarannya di dalam kitab Taurat. Kemudian ketika mendengar kelompoknya sedang dimaki dan direndahkan, seorang dari kalangan Nasrani Najran membalas perkataan orang-orang Yahudi itu dengan berkata “مَا أَنْتُمْ عَلَى شَيْءٍ” (kamu juga tidak berdiri di atas agama apapun) dan membalas dengan mengingkari kenabian Musa as dan kebenaran Kitab Taurat. Padahal kebenaran akan kenabian Musa dan Taurat itu ada di dalam kitab Injil.
Maka dari itu, ketika kedua kelompok ini tidak saling mengalah dan tetap saling ingkar-mengingkari, Allah menurunkan Surat Al-Baqarah: 113 yang berbunyi.
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ لَيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍۖ وَّقَالَتِ النَّصٰرٰى لَيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍۙ وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْۚ فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
“Orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani itu tidak menganut sesuatu (agama yang benar)” dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, “Orang-orang Yahudi tidak menganut sesuatu (agama yang benar),” padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu (musyrik Arab) berkata seperti ucapan mereka itu. Allah akan memberi putusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa (agama) yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah: 113).
Sebab Perselisihan
Entah, sebab apa yang mengawali orang-orang Yahudi Madinah melakukan provokasi awal kepada orang-orang Nasrani Najran. Apakah hanya sentimen agama semata ataukah ada hal lainnya. Tetapi apapun alasannya, yang kita tahu orang-orang Yahudi punya keyakinan kuat bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan. Mereka menganggap bahwa Allah yang maha Esa hanyalah Tuhan mereka, bukan untuk tuhan agama lain, tidak untuk Islam dan tidak juga untuk Nasrani, oleh sebab itulah mereka menganggap sebagai umat yang istimewa dan pilihan Tuhan.
Selain itu, berbeda dengan agama Nasrani dan Islam yang merupakan agama misi untuk mendakwahkan ajarannya, agama Yahudi sama sekali tidak memiliki kecenderungan untuk memaksa umat lain memeluk agamanya, malahan menyebarkan seruan agama selain kepada bangsa Yahudi merupakan suatu hal yang dilarang, hal ini disebabkan karena mereka tidak ingin keistimewaan yang mereka yakini bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan terlimpahkan juga kepada umat selain mereka. (Tarikh al-Yahud fi Biladi al-Arab, h. 72, Mekkah dan Madinah: Sejarah Kuno Dua Kota Suci, h. 316).
Orang Yahudi Madinah juga sangat tidak menyenangi Islam dan Nabi Muhammad saw, karena kehadiran Nabi saw di Madinah dengan sambil mendakwahkan Islam semakin melemahkan status keberadaan Yahudi di Madinah yang pada saat itu sudah banyak menerima kekalahan dalam hal apapun dari bangsa Arab Madinah, terutama dari suku Aus dan Khazraj. Bahkan mereka terang-terangan mengatakan lebih menyukai agama Quraisy yang masih menyembah berhala ketimbang ajaran yang dibawa oleh Nabi saw. Hal ini bisa terbukti dimana pernah ada orang-orang Quraisy yang bertanya kepada mereka, apakah agama pagan yang dianut Quraisy lebih baik dari pada agama yang dibawa Muhammad. Maka kaum Yahudi ini menegaskan bahwa agama Quraisy jauh lebih baik dan berada dalam kebenaran dari pada agama Muhammad. (Ibnu Hisyam, 3/230).
Sangat ironis memang, dimana orang yang diberi Taurat dan memahami ajaran tauhid justru malah membela para penyembah berhala ketimbang kaum muslimin yang sudah jelas mengajarkan tauhid yang bahkan lebih murni dari mereka, seakan mereka ini lebih senang kalau semua orang berada dalam kemusyrikan ketimbang menjadi penyembah Allah yang maha Esa.
Kesamaan Musyrik Quraisy dan Yahudi-Nasrani
Lalu mengapa orang Quraisy malah bertanya kepada orang-orang Yahudi tentang penyembahan berhala. jawabannya, karena bagi orang Quraisy mereka adalah pemegang kitab sejati, dan paling banyak mengetahui berita-berita wahyu karena ada Taurat bersama mereka, jadi bisa dikatakan bahwa dalam hal ini para kafir Quraisy lebih mempercayai Yahudi ketimbang ajaran Nabi saw itu sendiri, disamping itu orang Quraisy juga lebih memilih untuk dekat kepada mereka karena dianggap akan jauh lebih memberikan keuntungan ketimbang mempercayai dan bergabung bersama Nabi Muhammad saw. Makanya dalam sejarah beberapa kali disebutkan bahwa orang-orang Quraisy pernah bersekongkol dengan orang-orang Yahudi Madinah untuk mengalahkan Muhammad dan para pengikutnya.
Oleh karena itu, ayat di atas juga sedikit banyaknya menyinggung kelakuan orang-orang Quraisy yang punya kemiripan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang sedang berbantah-bantahan, dimana mereka Quraisy sering berkata “لَيْسَ مُحَمَّدٌ عَلَى شَيْءٍ” (Muhammad tidaklah berada di atas kebenaran sedikitpun). Makanya di dalam ayat itu ada lanjutan
كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ
(Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu (musyrik Arab) berkata seperti ucapan mereka itu).
Terkait tentang siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang tidak berilmu dalam redaksi tersebut, memang ada beberapa pendapat di dalamnya, ada yang berpendapat mereka adalah umat yang hadir sebelum Yahudi dan Nasrani, juga ada yang berpendapat mereka adalah orang-orang Arab (yang musyrik). Terlepas dari pendapat itu semua, yang jelas semua pendapat itu bisa dikompromikan dan dibenarkan, karena memang tidak ada yang bisa memastikan tentang siapa sebenarnya yang dimaksud dengan mereka itu. (Tafsir Ibnu Katsir, I/143).
–
Referensi:
- Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, h. 143
- Israel Wolfonsohn – Abu Dzu’aib, Tarikh al-Yahud fi Biladi al-Arab, (Mesir: Maktabah al-I’timad, 1927)
- Ahmad Ibrahim asy-Syarif, Mekkah dan Madinah: Sejarah Kuno Dua Kota Suci Menurut Sumber Otoritatif Islam, (Ciputat: Pustaka Alvabet, 2021)
baca juga Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 108: Terima Saja dan Jangan Persulit Diri
