Skip to content
Rab. Jun 17th, 2026
Trending News: Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 164: Ketika Orang Musyrik Bingung Hanya ada Satu Tuhan yang EsaKisah Nabi Shaleh dan Pembangkangan Kaum TsamudRenungan Ibrahim tentang Tuhan Alam SemestaKetika Dengki Mengalahkan Persaudaraan: Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Qabil dan HabilKisah Qabil dan Habil: Pelajaran Tentang Takwa dan Bahaya KedengkianDIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYAASBABUN NUZUL SURAT AL-BAQARAH AYAT 115 & 144: Sejarah Pemindahan Arah KiblatTOLONGLAH SAUDARAMU SAAT DIA BERLAKU ZHALIM???ASBABUN NUZUL SURAT AZ-ZUMAR AYAT 3: “Kami menyembah berhala hanya sebagai perantara saja”About MeAsbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 89: “Ketika orang Yahudi tak rela Muhammad menjadi Nabi”
Kota Tangerang, Banten, Indonesia
SejarahDalil.com

SejarahDalil.com

Menelusuri Konteks Sejarah Ayat dan Hadis

  • Get Started
  • Home
  • Asbabun Nuzul
  • Asbabul Wurud
  • Kisah Dalam Al-Qur’an
Rab. Jun 17th, 2026
Trending News: Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 164: Ketika Orang Musyrik Bingung Hanya ada Satu Tuhan yang EsaKisah Nabi Shaleh dan Pembangkangan Kaum TsamudRenungan Ibrahim tentang Tuhan Alam SemestaKetika Dengki Mengalahkan Persaudaraan: Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Qabil dan HabilKisah Qabil dan Habil: Pelajaran Tentang Takwa dan Bahaya KedengkianDIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYAASBABUN NUZUL SURAT AL-BAQARAH AYAT 115 & 144: Sejarah Pemindahan Arah KiblatTOLONGLAH SAUDARAMU SAAT DIA BERLAKU ZHALIM???ASBABUN NUZUL SURAT AZ-ZUMAR AYAT 3: “Kami menyembah berhala hanya sebagai perantara saja”About MeAsbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 89: “Ketika orang Yahudi tak rela Muhammad menjadi Nabi”
Kota Tangerang, Banten, Indonesia
  • Home
  • Asbabun Nuzul
  • Asbabul Wurud
  • Kisah Dalam Al-Qur’an
SejarahDalil.com

SejarahDalil.com

Menelusuri Konteks Sejarah Ayat dan Hadis

  • Get Started

DIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYA

  1. Home
  2. DIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYA

DIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYA

  • Achmad Reza FahlepiAchmad Reza Fahlepi
  • Kisah Dalam Al-Qur'an
  • Juni 11, 2026
  • 1 Comments

Nabi Adam sangatlah menyesal ketika dia diturunkan oleh Allah ke bumi hanya karena melakukan suatu kekhilafan yaitu mendekati pohon terlarang. Sebelumnya, Nabi Adam berada di Surga dan dengan bebas dapat menikmati segala kenikmatan yang ada di dalamnya. penyesalan ini sangatlah wajar, karena biar bagaimanapun Nabi Adam adalah hamba Allah yang juga sangat membutuhkan rahmat Allah disetiap hayat hidupnya bahkan juga setelah wafatnya, karena tidak ada satupun makhluk di muka bumi ini yang mau dijauhkan dari rahmat Allah. oleh karena itu ketika Nabi Adam diperintahkan untuk turun ke bumi, pastilah penyesalan mendalam sangatlah membuat dirinya menderita.

Berkenaan hal ini, ada satu kisah menarik yang disampaikan oleh As-Suddi, ia berkata bahwa kisah ini bersumber dari Ibnu Abbas, salah seorang sahabat kenamaan Rasulullah SAW. Dimana pernah terjadi percakapan antara Nabi Adam dengan Allah swt. Nabi Adam mendahului perkataanya “ya rabb, bukankah engkau telah menciptakanku dengan tanganmu?” Allah menjawab “ya”. “dan engkau juga tiupkan ruhmu kepadaku?” Maka Allah pun menjawab “ya”. “dan ketika aku bersin maka engkau mendoakanku dengan ucapanmu “semoga Allah merahmatimu?”. Allah pun menjawab “ya”.

“bukankah Rahmatmu juga mendahului kebencianmu” lanjut Nabi Adam. Sekali lagi Allah pun menjawab “ya”. Kemudian Nabi Adam melanjutkan kembali pertanyaannya, “engkau pun telah menetapkanku untuk berbuat hal yang seperti ini?” (maksudnya merujuk kepada peristiwa memakan buah terlarang), maka Allah pun menjawab “ya”. Kemudian Adam bertanya sekali lagi. “ya rabb, bagaimana pandanganmu jika aku bertobat, apakah engkau akan mengembalikan aku kembali ke dalam surga?” maka Allah mengatakan “tentu”. Akhirnya dengan sebab itulah Allah mewahyukan beberapa kalimat kepada Nabi Adam sebagai bentuk pengakuan taubatnya dan sebagai syarat supaya taubatnya itu diterima oleh Allah, hal ini sesuai dengan firman Allah di dalam surat Al-Baqarah ayat 37 yang berbunyi:

فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun (Tuhannya) menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)

Beberapa para pakar tafsir, termasuk juga Ibnu Katsir, mengartikan beberapa kalimat yang diilhamkan kepada Nabi Adam sesuai makna dari ayat di atas, adalah beberapa kalimat yang ada di dalam petikan surat Al-A’raf ayat 23, yang berbunyi:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Keduanya (Adam dan Hawa) berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Sebenarnya kesalahan Nabi Adam itu sangat sepele sekali, yaitu dia mendekati sekaligus mencicipi buah yang telah dilarang Allah, dan hanya karena kesalahan itulah Allah marah kepada Adam. Memang begitulah beratnya beban yang dipikul oleh para Nabi, kesalahan kecil yang dilakukan oleh para Nabi adalah dosa besar jika ditimbang kepada orang awam. Tetapi Allah itu memiliki ampunan yang seluas langit dan bumi, bahkan seluas alam semesta, sehingga Adam berkata سَبَقَتْ رَحْمَتُكَ غَضَبَكَ (rahmatmu mendahului murkamu) sebagai pengertian bahwa Allah itu Maha Pengampun. Sehingga dosa sebesar apapun selama mau kembali kepada Allah pastilah dia akan menerimanya.

Hanya saja, banyak orang salah pengertian, bahwa Allah itu Maha Pengampun pasti benar adanya, tapi yang belum pasti adalah apakah setiap orang yang berdosa itu mau meminta ampunannya atau tidak, oleh karena itu, buat orang yang senang bergelimang maksiat dan tidak ada kesungguhan untuk bertobat, jangan juga dia mengharapkan ampunan Allah itu. Karena Allah mengampuni kepada siapa saja yang mau mendapat ampunannya, bukan kepada semua makhluk yang santai saja dalam melakukan dosanya. Kalau sudah banyak melakukan dosa dan ia bertobat dengan berusaha beramal baik dan meminta ampunannya, barulah layak untuk mengharapkan ampunan dari Allah. sekelas Nabi saja masih meminta ampunan, maka sudah sewajarnya bagi hamba biasa untuk lebih keras lagi berusaha memohon ampunannya.

Referensi Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 37

Achmad Reza Fahlepi

Navigasi pos

Kisah Qabil dan Habil: Pelajaran Tentang Takwa dan Bahaya Kedengkian

Related Posts

Kisah Nabi Shaleh dan Pembangkangan Kaum Tsamud
  • Sejarah DalilSejarah Dalil
  • Juni 15, 2026
  • 0 Comments
Kisah Nabi Shaleh dan Pembangkangan Kaum Tsamud

Nabi Shalih as. merupakan nabi yang diutus untuk menyampaikan dakwah kepada kaum tsamud, kaum yang hidup setelah kaum ‘Ad. Nama tsamud sendiri diambil dari nama kakek moyang mereka, yaitu Tsamud…

Continue reading
Renungan Ibrahim tentang Tuhan Alam Semesta
  • Sejarah DalilSejarah Dalil
  • Juni 15, 2026
  • 1 Comments
Renungan Ibrahim tentang Tuhan Alam Semesta

Nabi Ibrahim dan Penghancuran Berhala Kisah Nabi Ibrahim As. mencari tuhan mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Nabi Ibrahim lahir pada masa pemerintahan Raja Namrud. Bapaknya Bernama Azar…

Continue reading

One thought on “DIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYA”

  1. Ping-balik: Kisah Qabil dan Habil: Pelajaran Tentang Takwa dan Bahaya Kedengkian - SejarahDalil.com

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 164: Ketika Orang Musyrik Bingung Hanya ada Satu Tuhan yang Esa
  • Kisah Nabi Shaleh dan Pembangkangan Kaum Tsamud
  • Renungan Ibrahim tentang Tuhan Alam Semesta
  • Ketika Dengki Mengalahkan Persaudaraan: Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Qabil dan Habil
  • Kisah Qabil dan Habil: Pelajaran Tentang Takwa dan Bahaya Kedengkian

Recent Comments

  1. Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 164: Ketika Orang Musyrik Bingung Hanya ada Satu Tuhan yang Esa - SejarahDalil.com mengenai ASBABUN NUZUL SURAT AL-BAQARAH AYAT 115 & 144: Sejarah Pemindahan Arah Kiblat
  2. Kisah Qabil dan Habil: Pelajaran Tentang Takwa dan Bahaya Kedengkian - SejarahDalil.com mengenai DIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYA
  3. Kisah Nabi Shaleh dan Pembangkangan Kaum Tsamud - SejarahDalil.com mengenai Renungan Ibrahim tentang Tuhan Alam Semesta
  4. Renungan Ibrahim tentang Tuhan Alam Semesta - SejarahDalil.com mengenai Ketika Dengki Mengalahkan Persaudaraan: Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Qabil dan Habil
  5. Siti Azizah mengenai ASBABUN NUZUL SURAT AZ-ZUMAR AYAT 3: “Kami menyembah berhala hanya sebagai perantara saja”

Archives

  • Juni 2026

Categories

  • Asbabul Wurud
  • Asbabun Nuzul
  • Home
  • Kisah Dalam Al-Qur'an

Other Story

Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 164: Ketika Orang Musyrik Bingung Hanya ada Satu Tuhan yang Esa

  • Achmad Reza Fahlepi
  • Juni 17, 2026
Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 164: Ketika Orang Musyrik Bingung Hanya ada Satu Tuhan yang Esa
Kisah Dalam Al-Qur'an

Kisah Nabi Shaleh dan Pembangkangan Kaum Tsamud

  • Sejarah Dalil
  • Juni 15, 2026
Kisah Nabi Shaleh dan Pembangkangan Kaum Tsamud
Kisah Dalam Al-Qur'an

Renungan Ibrahim tentang Tuhan Alam Semesta

  • Sejarah Dalil
  • Juni 15, 2026
Renungan Ibrahim tentang Tuhan Alam Semesta
Kisah Dalam Al-Qur'an

Ketika Dengki Mengalahkan Persaudaraan: Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Qabil dan Habil

  • Sejarah Dalil
  • Juni 14, 2026
Ketika Dengki Mengalahkan Persaudaraan: Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Qabil dan Habil
Kisah Dalam Al-Qur'an

Kisah Qabil dan Habil: Pelajaran Tentang Takwa dan Bahaya Kedengkian

  • Sejarah Dalil
  • Juni 13, 2026
Kisah Qabil dan Habil: Pelajaran Tentang Takwa dan Bahaya Kedengkian
Kisah Dalam Al-Qur'an

DIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYA

  • Achmad Reza Fahlepi
  • Juni 11, 2026
DIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYA
Copyright © 2026 SejarahDalil.com | Powered by Desert Themes
Back to Top