Dalam catatan sejarah, Abdul Muththtalib yang merupakan kakek dari Nabi Muhammad saw memiliki sepuluh orang putra dari lima orang istri, diantaranya: 1). Samra’/Shafiyah melahirkan putra bernama al-Harits; 2). Fatimah melahirkan az-Zubair, Abdul Manaf (Abu Thalib), dan Abdullah (ayah Nabi saw); 3). Lubna melahirkan Abu Lahab; 4). Nutailah melahirkan al-Abbas dan Dhirar; 5). Halah melahirkan Hamzah, Jahl, dan al-Muqowwam. Selain memiliki enam orang putra, Abdul Muththalib juga memiliki enam orang putri, yaitu: Shafiyah, Umm Hakim al-Baidha, Atikah, Umaimah, Arwa, dan Barrah. Ibu mereka semua adalah Fatimah kecuali Shafiyah yang berasal dari rahim Halah. (Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad, h.  152.)

Berdasar pemaparan diatas, diketahui bahwa Abdullah (ayah Nabi saw) memiliki sembilan orang saudara lelaki dan enam orang saudara perempuan. Itu artinya mereka semua merupakan paman dan juga bibi dari Nabi Muhammad saw. Diantara kesembilan pamannya, mereka yang masih hidup saat dakwah pertama Nabi dimulai, adalah Abu Thalib, Hamzah, al-Abbas, dan Abu Lahab. Sementara kesemua bibi Nabi Muhammad saw disinyalir juga hidup sampai Nabi Muhammad saw menyampaikan dakwahnya.

Paman Nabi yang menerima ajakan Islam hanya ada dua orang, yaitu Hamzah dan al-Abbas, untuk Abu Thalib banyak versi yang mengatakan ia wafat dengan tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Hanya saja sekalipun begitu adanya, ia merupakan orang yang paling berjasa dalam membela dakwah Islam. Selama Abu Thalib hidup, orang-orang Quraish sangat segan kepadanya sehingga tidak terlalu berani menyakiti Nabi secara terang-terangan. Sementara itu, berbeda dengan Abu Thalib, salah seorang saudaranya yang bernama Abu Lahab yang juga merupakan paman dari Nabi Muhammad saw dikenal sebagai penentang Nabi yang sangat keras, bahkan sangat keras untuk ukuran seorang paman dekat.

Tetapi yang menariknya, sekalipun Abu Lahab dikenal keras disaat Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul, dia merupakan orang yang lembut disaat Muhammad masih kecil. Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa ia memerdekakan seorang budak miliknya sendiri yang bernama Tsuwaibah karena rasa gembira, karena budaknya itu memberikan kabar kepadanya berita tentang kelahiran Muhammad kecil; anak dari saudaranya yang bernama Abdullah. Bahkan al-Abbas bin Abdul Muththalib pernah memimpikan Abu Lahab pasca setahun kematiannya sedang memakai pakaian yang berwarna putih dan dia menanyainya tentang keadaannya di alam kubur. Abu Lahab lantas menjawab bahwa dia di neraka, tetapi setiap malam senin Allah meringankan siksa untuknya karena dia telah membebaskan budaknya karena saking senangnya mendengar kelahiran Nabi saw (HR. Bukhari dengan redaksi yang lebih panjang). (lihat Quraish Shihab, Membaca Sirah Muhammad, h. 201-202).

Wujud Kedengkian Abu Lahab dan Sebab Turunnya Surat Al-Lahab

Berdasar riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas, pernah disuatu pagi Rasulullah saw menyeru kepada kaumnya, dimana ia keluar ke tempat dataran yang landai lalu ia mendaki sebuah bukit, di atas bukit itu dia menyeru kaumnya. “Wahai kaumku, berkumpul lah!” Ucap baginda Rasul saw. Seketika itu juga orang-orang Quraish yang mendengar seruannya berkumpul kepadanya. Kemudian Rasul saw melanjutkan sabdanya. “Bagaimana pendapat kalian jika aku katakan kepada kalian bahwa akan ada musuh yang siap menyerang di pagi hari atau di sore hari, apakah kalian akan memercayaiku?” kemudian orang-orang Quraish menjawab serempak, “ya kami mempercayai kamu.” Kemudian Rasul melanjutkan sabdanya. “Kalau begitu, aku katakan bahwa aku memberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang keras.”

Ketika Rasul telah usai mengatakan hal demikian, tiba-tiba datang seorang yang paling dikenal oleh Rasulullah sendiri, orang itu tak lain adalah pamannya yang bernama Abu Lahab. Dengan lantang Abu Lahab berkata sambil menghardik keponakannya itu. “Apakah karena hal ini engkau mengumpulkan kami, sungguh celakalah kamu!” setelah Abu Lahab mengeluarkan kata-kata celaan kepada Nabi Muhammad saw, maka Allah pun membela Nabinya dengan menurunkan Surat Al-Lahab (Al-Masad) yang berbunyi:

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ. مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ. سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ. وَّامْرَاَتُهٗۗ حَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ. فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (QS. Al-Lahab: 1-5)

Dari surat tersebut diketahui dan dipastikan tempat kembalinya Abu Lahab kelak adalah neraka. Bahkan tidak hanya dirinya, istrinya pun dipastikan akan ikut bersamanya masuk ke dalam neraka. Istrinya yang dimaksud dalam ayat ini bernama Ummu Jamil, nama aslinya adalah Arwa binti Harb bin Umayyah, dia adalah saudara perempuan dari Abu Sufyan. Ia termasuk pembesar Quraish dari kalangan perempuan. Setiap harinya ia selalu membantu Abu Lahab untuk ingkar dan menentang Nabi. Bahkan di hari kiamat kelak, ia akan menjadi pembantu atas siksa yang menimpa Abu Lahab di Neraka dengan cara melemparkan kayu bakar di hadapan Abu Lahab agar api neraka semakin berkobar untuknya. Oleh karena itu Al-Qur’an menyebutkan

وَّامْرَاَتُهٗۗ حَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ. فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

(begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.)

Menurut Mujahid, Ikrimah, al-Hasan, Qotadah, al-Tsauri, dan al-Suddi, Makna hammalatal hathob adalah pembawa fitnah. Hal itu dikarenakan Ummu Jamil adalah seorang wanita yang sering kali menyebarkan fitnah dan juga namimah (adu domba), pendapat ini lah yang dipilih Ibnu Jarir. Kemudian salah satu bentuk kedengkian Ummu Jamil ini, dikatakan bahwa dia pernah meletakkan duri ditempat yang biasa dilalui oleh Nabi Muhammad saw. Hal itu ditujukan agar Nabi menginjak duri yang disebar olehnya. Sa’id ibn al-Musayyab meriwayatkan, bahwa Ummu Jamil ini memiliki kalung di lehernya, dan dengan kalung itu dia berkata: “Sungguh akan aku infakkan kalung ini dalam perkara yang berkaitan dengan permusuhan terhadap Muhammad”. Maka dari sebab itulah Allah akan menyiksa dia dengan tali yang menjuntai di lehernya dari api neraka (hablun min masad). (Tafsir Ibnu Katsir, Juz IV/492-493).

Jika melihat kepada nasib orang-orang yang memusuhi Nabi Muhammad saw, akan sering kita temukan riwayat yang menyebutkan bahwa mereka tidak akan selamat hidupnya, bahkan di akhirat kelak pun akan lebih parah lagi nasibnya, sekalipun ia adalah keluarga dekat Nabi sendriri. Sebaliknya, yang membela Nabi Muhammad saw selama hidupnya, sekalipun dia bukan berasal dari keluarga dekatnya, maka hidupnya akan penuh kemakmuran dunia dan juga akhiratnya. Itu artinya, satu-satunya jalan keselamatan adalah dengan cara mengikuti ajarannya dan jangan mengingkarinya. Sekali mengingkari dan menentangnya, bisa jadi kehinaan dan kemalangan dunia akan dan akhrat taruhannya. Wallahu a’lam.


Referensi:

  • Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-Hais Shahih, h.  152.
  • Tafsir Ibnu Katsir, Juz IV, h. 492-493.
  • Jalaluddin al-Suyuthu, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, h. 215.

ingin tahu apakah yang diperdebatkan Yahudi dan Nashrani baca Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 113: Ketika Orang Yahudi dan Nasrani Saling Berdebat Agama