Tujuan dasar dari adanya jihad (dalam arti berperang) di jalan Allah, adalah untuk mempertahankan kemaslahatan dan kebaikan semua orang di suatu wilayah, karena kita tahu kenyamanan suatu negara akan terbentuk jika semua penduduknya hidup dalam kedamaian. Bisa tenang mencari rizki, tenang mencari ilmu, dan tenang dalam beribadah adalah dambaan bagi semua penduduk negara dimanapun adanya. Maka dari itu, ketika rasa nyaman kita terusik karena adanya serangan dari luar, dan mereka berusaha untuk membinasakan kita dan juga menguasai hak hidup kita, maka wajib hukumnya untuk melawan dengan segala kemampuan, baik dengan finansial maupun dengan tenaga.
Jihad adalah ibadah gotong royong, semua elemen masyarakat harus terlibat di dalamnya, tidak bisa salah satu kelompok hanya berpangku tangan kepada kelompok lainnya. Harus ada yang berjihad dengan hartanya, dan juga harus ada yang berjihad dengan kekuatannya. Secara zahirnya, berperang dalam jalan Allah terlihat sebagai tindakan yang menjatuhkan diri dalam kehancuran. Bagaimana tidak, kita mempertaruhkan nyawa dalam kebinasaan untuk mengalahkan pihak lainnya, bahkan tak jarang harta benda pun habis demi untuk modal dalam berjihad atau berperang.
Dalam suatu riwayat yang terdapat di dalam Tafsir Ibnu Katsir, ada sebuah kisah menarik berkenaan dengan hal ini. Ibnu Katsir meriwayatkan kisah dari Aslam Abi Imran, suatu waktu ketika kaum muslimin sedang berjihad di jalan Allah untuk menaklukkan konstantinopel, ada seorang Sahabat Nabi saw dari kalangan muhajirin yang melakukan penyerangan dengan gagah berani, bahkan ia nekat masuk kedalam barisan musuh dan menerobos ke dalamnya.
Kebetulan pada saat terjadinya pertempuran tersebut, masih ada sahabat Abu Ayyub Al-Anshari yang juga ikut kedalam barisan perang, ketika hal itu terjadi, ada sebagian orang yang berkomentar tentang lelaki yang nekat masuk ke dalam barisan musuh itu tadi, dimana mereka berkata “orang itu telah menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan”. Rupanya ungkapan kalimat tersebut berasal dari potongan ayat Al-Qur’an yang mereka semua keliru dalam memaknainya, potongan kalimat dari ayat Al-Qur’an yang dimaksud berbunyi
وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah jerumuskan diri kalian dalam kebinasaan”
Sebab Turunnya Ayat
Ketika mendengar itu, Abu Ayyub menegaskan dengan berkata “”نَحْنُ أَعْلَمُ بِهذِهِ الآيَةِ (kami lebih faham maksud dari ayat itu) setelahnya Abu Ayyub menjelaskan secara detail tentang ayat tersebut, dimana dia melanjutkan perkataannya “ayat ini turun untuk kami (orang-orang Anshar), dimana dahulu kami telah menemani Rasulullah SAW dan kami menyaksikan bersamanya berbagai peristiwa dan kami menolongnya. Maka ketika Islam telah menyebar dan menang, kami kaum Anshar berkumpul dan kami berkata: Sesungguhnya Allah telah memuliakan kita dengan persahabatan Nabi-Nya SAW dan pertolongan-Nya, hingga Islam telah menyebar dan pengikutnya banyak, dan kami telah mengutamakan beliau daripada keluarga, harta, dan anak-anak kami. Sekarang perang telah berakhir, maka giliran kami akan kembali kepada keluarga dan anak-anak kami dan menetap bersama mereka.”
Maka setelah percakapan itu terjadi, Allah menurunkan surat Al-Baqarah ayat 195
…وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ
“Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan…”
Sehingga maksud dari tahlukah (kebinasaan) disini adalah menetap bersama keluarga, mengurus harta dan perkebunan, serta meninggalkan jihad.
Makna Menjatuhkan Diri Dalam Kebinasaan
Jadi pada mulanya, sebagian tentara yang ikut berperang dalam usaha pembebasan Konstantinopel saat itu menganggap bahwa tindakan nekat dalam berperang sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian sahabat dalam cerita itu tadi, difahaminya sebagai tindakan yang akan menjerumuskan kepada kebinasaan, padahal jihad memang semestinya begitu, harus ada satu atau dua orang yang berani untuk mengacaukan persatuan barisan musuh, andai berkat aksinya ia terbunuh misalnya, maka itulah dikatakan sebagai syahid.
Bahkan secara pemahaman terbalik, ayat itu justru memberikan pemahaman bahwa tindakan diam di rumah, berkumpul bersama istri dan keluarga, mengurus perkebunan, dan pekerjaan lainnya disaat sedang adanya ancaman perang, itulah sebenarnya tindakan yang akan menyebabkan kebinasaan, karena andaikan ada banyak orang yang lebih memilih untuk mengurus kepentingan pribadinya ketimbang berjihad, padahal ancaman dari luar sudah di depan mata, kemudian sifat individualistis telah menyebar di suatu masyarakat, maka kehancuran suatu masyarakat itu hanya tinggal menunggu waktu saja.
Sebabnya karena masyarakat yang individualistis tidak akan pernah menang dan mampu melindungi dirinya jika dihadapkan oleh musuh yang kuat yang sudah terorganisir persatuannya. Untuk itu Allah mengingatkan kepada kaum muslimin agar berinfak di jalan Allah dan jangan jatuhkan diri ke dalam kebinasaan dengan cara diam saja di rumah sambil berkumpul bersama keluarga dan mengurus usahanya sendiri padahal ancaman musuh sudah di depan mata, karena kalau sampai itu semua telah terjadi, maka siap-siap saja kebinasaan itu akan datang, maka dari itu jangan sampai kamu menjatuhkan diri dalam kebinasaan dengan cara meninggalkan jihad dan malah sibuk sendiri dengan urusannya masing-masing.
Tambahan: Usaha pembebasan Konstantinopel yang diikuti oleh sahabat Abu Ayyub Al-Anshari terjadi saat pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Sebagian pendapat mengatakan usia Abu Ayyub Al-Anshari ketika itu telah mencapai usia 80 tahunan, ada juga yang mencatat sampai di usia 90 tahunan, terlepas dari itu semua, para sejarawan sepakat bahwa beliau ikut berjihad saat usia sudah sangat senja. Beliau wafat di Konstantinopel karena sakit disaat sedang berkecamuknya perang dan dimakamkan di dekat gerbang kota di sana.
–
- Referensi: Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I, h. 120.
