Nabi Adam sangatlah menyesal ketika dia diturunkan oleh Allah ke bumi hanya karena melakukan suatu kekhilafan yaitu mendekati pohon terlarang. Sebelumnya, Nabi Adam berada di Surga dan dengan bebas dapat menikmati segala kenikmatan yang ada di dalamnya. penyesalan ini sangatlah wajar, karena biar bagaimanapun Nabi Adam adalah hamba Allah yang juga sangat membutuhkan rahmat Allah disetiap hayat hidupnya bahkan juga setelah wafatnya, karena tidak ada satupun makhluk di muka bumi ini yang mau dijauhkan dari rahmat Allah. oleh karena itu ketika Nabi Adam diperintahkan untuk turun ke bumi, pastilah penyesalan mendalam sangatlah membuat dirinya menderita.
Berkenaan hal ini, ada satu kisah menarik yang disampaikan oleh As-Suddi, ia berkata bahwa kisah ini bersumber dari Ibnu Abbas, salah seorang sahabat kenamaan Rasulullah SAW. Dimana pernah terjadi percakapan antara Nabi Adam dengan Allah swt. Nabi Adam mendahului perkataanya “ya rabb, bukankah engkau telah menciptakanku dengan tanganmu?” Allah menjawab “ya”. “dan engkau juga tiupkan ruhmu kepadaku?” Maka Allah pun menjawab “ya”. “dan ketika aku bersin maka engkau mendoakanku dengan ucapanmu “semoga Allah merahmatimu?”. Allah pun menjawab “ya”.
“bukankah Rahmatmu juga mendahului kebencianmu” lanjut Nabi Adam. Sekali lagi Allah pun menjawab “ya”. Kemudian Nabi Adam melanjutkan kembali pertanyaannya, “engkau pun telah menetapkanku untuk berbuat hal yang seperti ini?” (maksudnya merujuk kepada peristiwa memakan buah terlarang), maka Allah pun menjawab “ya”. Kemudian Adam bertanya sekali lagi. “ya rabb, bagaimana pandanganmu jika aku bertobat, apakah engkau akan mengembalikan aku kembali ke dalam surga?” maka Allah mengatakan “tentu”. Akhirnya dengan sebab itulah Allah mewahyukan beberapa kalimat kepada Nabi Adam sebagai bentuk pengakuan taubatnya dan sebagai syarat supaya taubatnya itu diterima oleh Allah, hal ini sesuai dengan firman Allah di dalam surat Al-Baqarah ayat 37 yang berbunyi:
فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun (Tuhannya) menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)
Beberapa para pakar tafsir, termasuk juga Ibnu Katsir, mengartikan beberapa kalimat yang diilhamkan kepada Nabi Adam sesuai makna dari ayat di atas, adalah beberapa kalimat yang ada di dalam petikan surat Al-A’raf ayat 23, yang berbunyi:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
“Keduanya (Adam dan Hawa) berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Sebenarnya kesalahan Nabi Adam itu sangat sepele sekali, yaitu dia mendekati sekaligus mencicipi buah yang telah dilarang Allah, dan hanya karena kesalahan itulah Allah marah kepada Adam. Memang begitulah beratnya beban yang dipikul oleh para Nabi, kesalahan kecil yang dilakukan oleh para Nabi adalah dosa besar jika ditimbang kepada orang awam. Tetapi Allah itu memiliki ampunan yang seluas langit dan bumi, bahkan seluas alam semesta, sehingga Adam berkata سَبَقَتْ رَحْمَتُكَ غَضَبَكَ (rahmatmu mendahului murkamu) sebagai pengertian bahwa Allah itu Maha Pengampun. Sehingga dosa sebesar apapun selama mau kembali kepada Allah pastilah dia akan menerimanya.
Hanya saja, banyak orang salah pengertian, bahwa Allah itu Maha Pengampun pasti benar adanya, tapi yang belum pasti adalah apakah setiap orang yang berdosa itu mau meminta ampunannya atau tidak, oleh karena itu, buat orang yang senang bergelimang maksiat dan tidak ada kesungguhan untuk bertobat, jangan juga dia mengharapkan ampunan Allah itu. Karena Allah mengampuni kepada siapa saja yang mau mendapat ampunannya, bukan kepada semua makhluk yang santai saja dalam melakukan dosanya. Kalau sudah banyak melakukan dosa dan ia bertobat dengan berusaha beramal baik dan meminta ampunannya, barulah layak untuk mengharapkan ampunan dari Allah. sekelas Nabi saja masih meminta ampunan, maka sudah sewajarnya bagi hamba biasa untuk lebih keras lagi berusaha memohon ampunannya.
Referensi Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 37
