Mengapa Orang Yahudi Sulit Mengimani Nabi Muhammad SAW?

Di dalam Al-Qur’an, orang-orang Yahudi sering kali ditampilkan sebagai sosok kaum yang sulit sekali dipegang omongannya, tak terkecuali orang-orang Yahudi yang hidup di masa Rasulullah SAW. Jika hari ini dia berbicara tentang sesuatu, bisa jadi besok dia akan mengatakan sesuatu tersebut dengan hal yang berlainan dengan apa yang dia katakan di hari ini. Salah satu sifat orang Yahudi yang seperti ini, pernah dikonfirmasi juga kebenarannya dengan turunnya Surat Al-Baqarah ayat 89.

وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ كِتٰبٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْۙ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۚ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهٖ ۖ فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

“Setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka, laknat Allahlah terhadap orang-orang yang ingkar.” (QS. Al-Baqarah: 89).

Lalu apa kaitannya ayat tersebut dengan sifat orang Yahudi yang sering mengingkari perkataannya sendiri?

Untuk menjawabnya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu, bahwa ayat itu turun untuk kalangan Yahudi yang hidup di masa Rasulullah SAW, terutama sekali menyasar kepada kalangan Yahudi Madinah, untuk memahaminya lebih lanjut kita juga perlu membaca sejarah sebelum masa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai seorang rasul, bahkan jauh sebelum kelahiran Nabi SAW itu sendiri.

Dahulu orang-orang Yahudi yang ada di Madinah ini, sering kali berperang dengan suku-suku Arab yang ada di Madinah, terutama suku Aus dan Khajraz. Slogan yang mereka bawa ketika berperang adalah, “Kalangan ahli kitab sedang berperang dengan orang-orang musyrik Arab”. Menurut Ibnu Abbas, Qatadah, dan As-Suddi, ayat ini turun untuk kalangan Yahudi Bani Quraizhah dan Bani Nadhir sewaktu mereka berperang melawan Suku Aus dan Khajraz. Dalam peperangan tersebut, orang-orang Yahudi sering kali dikalahkan, hingga mereka berkata, “bahwa sebentar lagi akan lahir Nabi Akhir zaman, yang mana jika dia telah muncul, maka kami akan berperang bersamanya untuk melawan kalian.” Bahkan setiap kali mereka berperang, mereka selalu berdoa dengan membawa nama Nabi Saw sebagai perantaraannya.

اللَهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا وَانْصُرْنَا بِالنَّبِيِّ الْأُمِّي

“Ya Allah, berikanlah kemenangan kepada kami dengan perantaraan Nabi yang ummi”.

Tapi sayangnya, setelah masa berlalu, Nabi yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya justru malah berasal dari kalangan orang Arab yang merupakan musuhnya sendiri, sehingga mereka merasa kecewa dan tidak mau mengimani Nabi yang berasal dari kalangan musuhnya itu. Padahal sebelumnya mereka telah percaya diri bahwa Nabi terakhir akan lahir dari kalangannya dan akan memerangi orang-orang musyrik Arab bersama mereka. Sikap mereka ini akhirnya diabadikan oleh Al-Qur’an, oleh karena itu Al-Qur’an mengatakan “setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka (yaitu membenarkan apa yang ada di dalam kitab Taurat terkait kedatangan Nabi akhir zaman), padahal sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir (musyrikin Arab Madinah, yang berasal dari suku Aus dan Khajraz melalui perantaraan Nabi Akhir Zaman tersebut), ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu (maksudnya kedatangan Nabi akhir zaman yang telah mereka tunggu, tetapi nyatanya tidak sesuai dengan harapan dan keinginannya), mereka malah mengingkarinya. Maka laknat Allah lah terhadap orang yang ingkar.”

Berkaitan dengan turunnya ayat tersebut, dituturkan pula oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, dimana Ibnu Kasir mengatakan bahwa, menurut pendapat Muhammad bin Ishaq, ayat ini turun ketika Muadz bin Jabal dan juga Bisyr ibn al-Bara’ mengajak agar orang-orang Yahudi Madinah masuk Islam, dimana mereka berdua berkata “wahai orang-orang Yahudi, takutlah kamu kepada Allah dan masuklah ke dalam ajaran Islam. Dahulu kalian meminta kemenangan kepada Allah dengan perantaraan Muhammad saw ketika berperang melawan kami, padahal disaat itu kami semua sedang berada dalam kemusyrikan dan kalian memberitakan kepada kami tentang akan adanya Nabi yang akan diutus Allah, bahkan kalian mengabarkan ciri-cirinya dengan sangat detail – kepada kami sehingga kami membenarkannya setelah kami melihatnya kemudian ajakan itu dijawab oleh Salam bin Misykam (seorang rahib Yahudi dari Bani Nadhir), “tidak ada ciri-ciri yang kami kenali ada pada dia (Muhammad) dan dia bukanlah orang yang kami jelaskan kepada kalian.” Maka pada akhirnya turunlah ayat tersebut sebagai gambaran tentang karakter sebagian besar orang-orang Yahudi yang hidup di masa Rasulullah SAW.

Wallahu A’lam bi al-Shawaab

Achmad Reza Fahlepi