Respon Quraisy Makkah ketika Turun Surat Al-Baqarah 163
Ketika Nabi SAW mendakwahkan Islam, dan mengajak orang-orang untuk hanya menyembah Allah, orang-orang Quraisy Makkah menentang dengan sangat keras, hal itu karena ajaran nenek moyang mereka yang telah tertancap kuat, bahwa sarana sesembahan yang nyata itu hanyalah berhala-berhala mereka, bukan Tuhan yang didakwahkan oleh Nabi SAW. Saking kuatnya keyakinan mereka terhadap berhala dan juga pengagungannya, mereka meletakkan berhala-berhala tersebut di sekeliling Ka’bah yang menurut sejarawan jumlahnya mencapai 360 buah.
Makanya ketika turun surat yang berbunyi:
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)
Respon orang-orang Quraisy Makkah ketika mendengar ayat tersebut merasa heran, bagaimana mungkin satu Tuhan bisa mengurusi dan mengatur kebutuhan seluruh makhluknya, mereka saja membutuhkan banyak berhala untuk tempat penampungan permohonan lalu bagaimana mungkin Muhammad mengajak untuk menyembah dan meminta hanya kepada satu Tuhan. Kesimpulannya akal mereka tidak bisa menerima hal itu.
Oleh karenanya sebagian kaum Quraisy Makkah setelah mereka mendengar ayat tersebut, sebagaimana yang dicatat dalam Lubabun Nuqul karya As-Suyuthi dan juga dalam Tafsir Ibnu Katsir, diriwayatkan bahwa Quraisy Makkah mendatangi Nabi saw untuk meminta bukti atas kebenaran ayat tersebut dan berkata: “wahai Muhammad kami menginginkan agar kamu berdoa kepada Tuhanmu agar menjadikan bukit Shafa menjadi emas, yang dengannya kami bisa membeli kuda dan persenjataan, maka kami nanti akan beriman kepadamu dan berperang bersamamu.” Kemudian Nabi Muhammad SAW menjawab: “Apakah kalian mau berjanji padaku jika aku telah berdoa kepada Tuhanku dan dia menjadikan bukit Shafa menjadi emas untukmu, apakah kamu mau berjanji untuk beriman padaku?” kemudian Quraisy Makkah itu pun berjanji sesuai dengan apa yang dimintakan oleh Nabi Muhammad SAW.
Nabi Memalingkan Doanya dan Turunlah Surat
Setelah mendengar Quraisy Makkah berjanji, maka Nabi SAW pun berdoa, lalu tiba-tiba turunlah Jibril dan mengakatan “kalau Allah telah menjadikan bukit Shafa menjadi emas, maka mereka harus siap, karena jika mereka ingkar kepadamu, Allah akan menurunkan azab yang belum pernah diturunkan ke satu umat pun di semesta alam.”
Ketika mendengar perkataan Jibril itu, Nabi saw langsung berkata:
رَبِّ لَا، بَلْ دَعْنِيْ وَقَوْمِيْ فَلَأَدْعُهُمْ يَوْمًا بِيَوْمٍ
“Ya Rabb, jangan (engkau lakukan itu), biarkanlah aku dan kaumku, akan kudakwahi mereka disetiap hari demi hari”
setelah itu, maka Allah pun menurunkan sebuah ayat, yaitu surat Al-Baqarah ayat 164.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air (hujan), lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisan angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164).
Langit dan Bumi sudah Cukup Sebagai Bukti
Sehingga dengan turunnya ayat itu, Allah menegaskan kepada kaum musyrikin Makkah yang sulit untuk mempercayai bahwa hanya ada satu Tuhan yang mengatur seluruh alam semesta ini, untuk tidak perlu lagi meminta bukti yang lain, karena keberadaan alam semesta ini dan seluruh isinya seharusnya sudah cukup menjadi bukti tentang adanya Tuhan yang Maha Esa yang wajib untuk disembah.
Lalu mengapa Allah menggunakan penciptaan langit dan bumi, adanya pergantian siang dan malam, dan juga lainnya dijadikan sebagai bukti bahwa adanya Allah Yang Maha Satu yang mereka ragukan itu. Jawabannya seolah-olah Allah ingin memberi tahu, bahwa manusia itu lemah untuk melakukan hal-hal tersebut, karena tidak ada satupun makhluk di bumi ini termasuk juga manusia, yang diketahui mampu menciptakan langit dan bumi dan merubah siklus pergantian siang dan malam. Seharusnya, kesadaran itu semua membuat orang-orang musyrik sadar, bahwa ada sebuah kekuatan dan kekuasaan yang maha besar diluar kekuasaan manusia yang mampu menciptakan langit dan bumi beserta isinya.
Selanjutnya, kalau manusia saja tidak mampu menciptakan langit dan bumi, merubah siklus siang dan malam, maka bagaimana mungkin ada makhluk lain yang derajatnya lebih rendah dari manusia seperti hewan, batu, gunung, dan api yang bisa menciptakan langit dan bumi, singkatnya, jika manusia saja tidak bisa menciptakan itu semua, apalagi yang lainnya. Sehingga Allah memerintahkan untuk berfikir bahwa pasti ada sesuatu yang lebih hebat dari seluruh manusia dan yang lainnya yang bisa menciptakan langit dan bumi, dan sesuatu itulah yang seharusnya disembah.
Maka dari itu, penutup dari Surat Al-Baqarah ayat ke 164, mengatakan bahwa semua tanda-tanda yang disebutkan di dalam ayat tersebut, hanya mampu difahami bagi orang-orang yang mengerti (berfikir). Jadi Allah tidak lagi memberikan bukti berupa berubahnya bukit Shafa menjadi emas untuk membuat orang-orang musyrikin Makkah beriman, karena percuma saja, sebab bukti kuat yang dilihat sehari-hari saja tidak cukup membuat mereka beriman, apalagi hanya sekedar bukti yang terjadi sekali dua kali, bisa jadi nanti mereka akan berkilah bahwa itu hanya sihir saja seperti yang sudah sering mereka katakan kepada Nabi Muhammad SAW.
Referensi
Tafsir Ibnu Katsir Karya Ibnu Katsir
Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul Karya As-Suyuthi
Baca Juga ASBABUN NUZUL SURAT AL-BAQARAH AYAT 115 & 144: Sejarah Pemindahan Arah Kiblat
