Respon Quraisy Makkah ketika Turun Surat Al-Baqarah 163

Makanya ketika turun surat yang berbunyi:

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Respon orang-orang Quraisy Makkah ketika mendengar ayat tersebut merasa heran, bagaimana mungkin satu Tuhan bisa mengurusi dan mengatur kebutuhan seluruh makhluknya, mereka saja membutuhkan banyak berhala untuk tempat penampungan permohonan lalu bagaimana mungkin Muhammad mengajak untuk menyembah dan meminta hanya kepada satu Tuhan. Kesimpulannya akal mereka tidak bisa menerima hal itu.

Nabi Memalingkan Doanya dan Turunlah Surat

Setelah mendengar Quraisy Makkah berjanji, maka Nabi SAW pun berdoa, lalu tiba-tiba turunlah Jibril dan mengakatan “kalau Allah telah menjadikan bukit Shafa menjadi emas, maka mereka harus siap, karena jika mereka ingkar kepadamu, Allah akan menurunkan azab yang belum pernah diturunkan ke satu umat pun di semesta alam.”

Ketika mendengar perkataan Jibril itu, Nabi saw langsung berkata:

رَبِّ لَا، بَلْ دَعْنِيْ وَقَوْمِيْ فَلَأَدْعُهُمْ يَوْمًا بِيَوْمٍ

setelah itu, maka Allah pun menurunkan sebuah ayat, yaitu surat Al-Baqarah ayat 164.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Langit dan Bumi sudah Cukup Sebagai Bukti

Sehingga dengan turunnya ayat itu, Allah menegaskan kepada kaum musyrikin Makkah yang sulit untuk mempercayai bahwa hanya ada satu Tuhan yang mengatur seluruh alam semesta ini, untuk tidak perlu lagi meminta bukti yang lain, karena keberadaan alam semesta ini dan seluruh isinya seharusnya sudah cukup menjadi bukti tentang adanya Tuhan yang Maha Esa yang wajib untuk disembah.

Lalu mengapa Allah menggunakan penciptaan langit dan bumi, adanya pergantian siang dan malam, dan juga lainnya dijadikan sebagai bukti bahwa adanya Allah Yang Maha Satu yang mereka ragukan itu. Jawabannya seolah-olah Allah ingin memberi tahu, bahwa manusia itu lemah untuk melakukan hal-hal tersebut, karena tidak ada satupun makhluk di bumi ini termasuk juga manusia, yang diketahui mampu menciptakan langit dan bumi dan merubah siklus pergantian siang dan malam. Seharusnya, kesadaran itu semua membuat orang-orang musyrik sadar, bahwa ada sebuah kekuatan dan kekuasaan yang maha besar diluar kekuasaan manusia yang mampu menciptakan langit dan bumi beserta isinya.

Selanjutnya, kalau manusia saja tidak mampu menciptakan langit dan bumi, merubah siklus siang dan malam, maka bagaimana mungkin ada makhluk lain yang derajatnya lebih rendah dari manusia seperti hewan, batu, gunung, dan api yang bisa menciptakan langit dan bumi, singkatnya, jika manusia saja tidak bisa menciptakan itu semua, apalagi yang lainnya. Sehingga Allah memerintahkan untuk berfikir bahwa pasti ada sesuatu yang lebih hebat dari seluruh manusia dan yang lainnya yang bisa menciptakan langit dan bumi, dan sesuatu itulah yang seharusnya disembah.

Referensi

Tafsir Ibnu Katsir Karya Ibnu Katsir

Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul Karya As-Suyuthi

Baca Juga ASBABUN NUZUL SURAT AL-BAQARAH AYAT 115 & 144: Sejarah Pemindahan Arah Kiblat