Kisah yang paling menarik dari anak-anak Nabi Adam AS adalah kisah Habil dan Qabil. Kisah ini merupakan peristiwa pembunuhan pertama dalam sejarah manusia yang terjadi akibat rasa iri, dengki, dan tidak mampu menerima ketetapan Allah SWT. Melalui kisah ini, Allah mengajarkan pentingnya ketakwaan, keikhlasan, dan pengendalian hawa nafsu.

Allah SWT berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ ۖ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang di antara mereka dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata, ‘Aku pasti membunuhmu.’ Yang lain berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27)

Menurut riwayat para ulama, Habil adalah seorang peternak yang mempersembahkan kambing terbaiknya sebagai kurban. Sementara itu, Qabil yang bekerja sebagai petani mempersembahkan hasil pertanian yang buruk. Karena keikhlasan dan ketakwaannya, kurban Habil diterima oleh Allah, sedangkan kurban Qabil ditolak.

Penolakan tersebut membuat Qabil dipenuhi rasa iri dan dengki kepada saudaranya. Ia bahkan mengancam akan membunuh Habil. Namun, Habil menunjukkan akhlak yang mulia dan ketakwaan yang tinggi. Sebagaimana diabadikan dalam al-qur’an ia (habil) berkata:

لَئِنْ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Sungguh, jika engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Ma’idah: 28)

Akibat dipenuhi rasa iri dan dengki, Qobil membunuh Habil saudaranya, dengan menusukkan pedang-nya ketubuh Habil. Meskipun Habil lebih kuat, ia tidak membalas kejahatan saudaranya. Sikap ini menunjukkan bahwa orang yang bertakwa lebih memilih menjaga diri dari dosa, dari pada memperturutkan emosi.

Akan tetapi, hawa nafsu telah menguasai Qabil. Allah SWT berfirman:

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Maka hawa nafsunya mendorong dia untuk membunuh saudaranya, lalu ia membunuhnya, sehingga jadilah dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Ma’idah: 30)

Setelah membunuh Habil, Qabil merasa panik dan menyesali perbuatannya, bahkan ia juga merasa kebingungan bagaimana mengurus jenazah saudaranya itu. Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak, burung gagak itu menggali tanah dengan cara mencakar-cakar dengan kaki dan paruhnya untuk menguburkan burung gagak lainnya yang telah mati. Dengan melihat bagaiamana cara burung gagak itu menguburkan kawannya, maka Qabil pun mengikuti menguburkan mayat Habil dengan cara menguburkannya seperti yang dilakukan burung gagak tadi.

Dari peristiwa ini, Qabil menyadari kesalahannya dan menyesal, tetapi penyesalan itu tidak dapat menghapus dosa besar yang telah dilakukannya, dan terbebas dari orang yang rugi.

Pesan yang dapat diambil dari kisah Habil dan Qabil ,kita tidak boleh menuruti hawa nafsu yang membuat penyesalan selamanya. Dan dari kisah ini pula memberikan banyak pelajaran berharga. Diantanya: Pertama, Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa. Kedua, sifat iri dan dengki dapat menghancurkan diri sendiri serta membawa kepada dosa besar. Ketiga, seorang mukmin harus mampu mengendalikan hawa nafsu dan menyelesaikan masalah dengan cara yang diridhai Allah. Keempat, keikhlasan dalam beribadah jauh lebih penting daripada sekadar bentuk lahiriah amal.

Oleh karena itu, kisah Habil dan Qabil sangat relevan untuk kehidupan saat ini. Banyak konflik, permusuhan, dan tindak kekerasan yang berawal dari rasa iri dan dengki. Sebagai seorang Muslim, kita harus meneladani ketakwaan dan kesabaran Habil, serta menjauhi sifat-sifat buruk Qabil yang dapat menjerumuskan kepada kerugian dunia dan akhirat.

Referensi: Qashashul Anbiya karya Ibnu Katsir

Syafiqurrahman (Mahasiswa Semester II Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqyah Jakarta)

baca kisah menarik lainnyaDIALOG ANTARA NABI ADAM DAN TUHANNYA